Sebagaimana layaknya orang2 yang belum pernah keluar negeri (well, sebenernya sih Cuma gue doang..sementara yang lain memiliki pengalaman minim) tentunya kami berusaha menggali info sebanyak-banyaknya tentang tips dan kebiasaan yang berlaku di tempat tersebut. Info yang paling dominan yang gue dengar tentang Singapore adalah keindahan nasib pejalan kaki di negeri tersebut, oleh karena keteraturan dan ketersediaan trotoar serta jalur khusus untuk pengemudi sepeda, yang entah kapan akan terjadi di negara ini *merenung*. Kembali ke jalan kaki, pada penyusunan itinerary di Singapore kami semua sepakat untuk mencoba menjadi pejalan kaki tangguh ala Singaporean. Sayangnya, mungkin kami menerapkan kata “berjalan kaki” terlalu harafiah. Biasa dikatakan kami terlalu menghayati peran kami sebagai seorang pejalan kaki. . Yah, maklumlah..seperti yang gue bilang tadi..kami ini terdiri dari sekelompok traveller yang baru memulai lembar buku backpacking kami. Bagaimana nggak? Rute perjalanan malam pertama (dan terakhir) kami menginjakkan kaki di Singapore, sekitar pk 09.30 PM waktu setempat, adalah ke Clarke Quay. Mengandalkan peta MRT yang ada, entah kenapa kita malah turun di City Hall (padahal setelah dibaca lagi, jelas2 ada MRT Clarke Quay tapi harus ganti lintasan ckckck...), dan berjalan kaki lah menuju Clarke Quay..yang ternyata cukup lumayan melelahkan dan membingungkan. Beres makan malam, di itinerary tertera Merlion Park (yah ketahuan amat ya baru pertama kali ke Singapore :p). Sekali lagi, nggak tau kesambet apa bercampur penghayatan peran sebagai pejalan kaki tangguh, sekali lagi kami memutuskan untuk berjalan kaki (lagi!). Dari Clarke Quay, kami menyusuri Sungai, menyebrang jembatan penyebrangan, dan...terhenti di persimpangan. Ups..tengok kiri-kanan, udah nggak ada orang! (Iyalah waktu menunjukkan pukul 00:30 waktu setempat). Yah, dengan berat hati..gue membuka peta Singapore (keluaran Periplus, yang sangat user friendly namun tetep aja otak gue nyut-nyutan mbacanya). Erin, sepupu gue, yang adalah rekan yang sangat dapat diandalkan dalam membaca peta, ikutan nimbrung memberikan persepsi tentang peta, sementara 3 mahluk lain sisanya malah foto-foto ! Karena ribet, peta tersebut bahkan sempet kita paparkan di trotoar (difoto pula! fotonya yang jadi theme untuk postingan ini ). Untung saat itu sudah bukan jam manusia normal berkeliaran di jalan, kalau nggak duh...mencoreng nama baik bangsa dan negara banget deh. Setelah mendapat pencerahan arah, kami pun melanjutkan perjalanan kami..dan terhenti lagi di sebuah jembatan yang letaknya dekat dengan Hotel Fullerton, karena Sari (ini adalah salah satu dari 3 mahluk yang foto-foto tadi) ngotot minta difoto di depan Hotel Fullerton, biar kaya di luar negeri, katanya. Halah! Oh ya terhenti berikutnya, karena Tia (ini juga satu dari ketiga mahluk yang foto-foto tadi) tiba2 nggak kelihatan. Ternyata dia lagi bantu mengarahkan sebuah truk parkir, yang supirnya ternyata orang Melayu dan ngerti arahannya dia, ngga jelas apa memang supir itu terbantu atau malah terganggu dengan aktivitas pengarahan temen gue itu. Singkat cerita (eh, panjang ya) kita sampe di Merlion Park...yang ternyata mati lampu! Iya, lampu sorotnya mati! Waktu menunjukkan pk 01:30, menempuh berbagai hal untuk bisa sampe, gue paksain foto-foto dengan flash seadanya. Hu-uh. Pulangnya? Tanpa pikir panjang, ”Taksiiiii!” | ntah knapa, gue jg slalu suka peta keluaran Periplus... hahahah.. |
 | kakakakakakak... kocak juga pengalaman lo. honestly speaking, gue blon pernah lho keliaran di Singapore :)) |
| |